Periodesastra angkatan Pujangga Baru muncul sebagai bentuk protes terhadap Balai Pustaka. Berikut karya-karya sastra angkatan Pujangga Baru. Karya-Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka. Kumpulan puisi Rindu Dendam (1934) J.E Tatengkeng. 20:00 WIB. Pengertian Dioda dan Jenisnya. Skola. 29/07/2022, 19:30 WIB Tabel4.1 Data Penelitian Kode No Judul Puisi Pengarang Angkatan Sampel 1 01 Tanah Air M.Yamin Balai Pustaka 2 Indonesia Tumpah 02 M.Yamin Balai Pustaka Darahku 3 03 Berdiri Aku Amir Hamzah Balai Pustaka 4 04 Padamu Jua Amir Hamzah Pujangga Baru 5 05 Kolam Rustam Effendi Pujangga Baru 6 06 Menuju Kelaut S.T Alisjahbana Pujangga Baru 7 07 Dibawa 1 Adapun Kami Anak Sekarang Mari Berjejrih Berbanting Tulang Menjaga Kemegahan Jangalah Hilang, Supaya Lepas Ke Padang Yang Bebas Sebagai Poyangku Masa Dahulu, Karena Bangsaku Dalam Hatiku Turunan Indonesia Darah Melayu 2. Di Lautan Hindia Mendengarkan Ombak Pada Hampirku Debar - Mendebar Kiri Dan Kanan Melagukan Nyanyi Penuh Santunan Soalini kita bisa memeriksa kumpulan puisi Asrul Sani satu-satunya yang pernah diterbitkan, Mantera (1975). "Mari kita ke Utara"//"Saudara, di sana bukan Utara."//"Ah, kalau begitu anakku telah dibawa ke Selatan.". Dari penggalan puisi "Kenanglah Bapa, Kenanglah Bapa" barangkali kita belum juga menemukan maksud yang gigantis MengindetifikasiTema Dan Ciri-Ciri Puisi Kontemporer Melalui Kegiatan Membaca Buku Kumpulan Puisi Kontemporer Menemukan Perbedaan Karakteristik Angkatan Melalui Membaca Karya Sastra Yang Di Anggap Penting Pada Tiap Periode. Pembabakan (periodisasi) karya sastra Indonesia sejak abad ke-20 dapat dibedakan menjadi Angkatan Balai Pustaka struktur organisasi kelas kreatif dari karton dan unik. Dalam perkembangan sastra Indonesia, Angkatan Balai Pustaka memegang peran yang sangat penting. Angkatan ini muncul pada awal abad ke-20, di tengah era perubahan sosial dan politik di artikel ini, kita akan menjelajahi Angkatan Balai Pustaka, menggali sejarah, peran, dan kontribusinya dalam perkembangan sastra Angkatan Balai PustakaAngkatan Balai Pustaka didirikan pada tahun 1917 sebagai penerbitan resmi pemerintah Hindia Belanda. Balai Pustaka bertujuan untuk mempopulerkan bacaan, meningkatkan literasi, dan menyebarkan pengetahuan di kalangan masyarakat awalnya, Balai Pustaka menerbitkan buku-buku pelajaran, kamus, dan karya-karya sastra klasik. Namun, seiring berjalannya waktu, mereka juga mulai menerbitkan karya-karya sastra dan Kontribusi Angkatan Balai PustakaMendorong Literasi dan PendidikanSalah satu kontribusi utama Angkatan Balai Pustaka adalah mendorong literasi dan pendidikan di Indonesia. Melalui penerbitan buku-buku pelajaran dan kamus, mereka berupaya meningkatkan akses masyarakat terhadap Balai Pustaka menjadi sumber pengetahuan yang penting bagi generasi muda pada masa Sastra IndonesiaAngkatan Balai Pustaka juga berperan dalam mempopulerkan sastra Indonesia. Mereka menerbitkan karya-karya sastra Indonesia yang ditulis dalam bahasa Melayu, seperti novel dan cerita karya-karya ini membantu mengangkat kehadiran sastra Indonesia di tengah masyarakat dan membantu mengembangkan kesadaran akan identitas budaya Peluang bagi Penulis MudaBalai Pustaka memberikan kesempatan bagi penulis muda untuk menerbitkan karya-karya mereka. Mereka memberikan tempat bagi penulis baru untuk mengekspresikan ide dan bakat mereka melalui karya ini membuka pintu bagi generasi baru penulis Indonesia untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya-karya yang Ideologi NasionalAngkatan Balai Pustaka juga memiliki peran penting dalam menyebarkan ideologi nasional. Melalui penerbitan karya sastra yang mencerminkan semangat nasionalisme dan perjuangan, mereka membantu membangkitkan kesadaran nasional di kalangan Balai Pustaka menjadi sumber inspirasi dan pemersatu dalam gerakan kemerdekaan dan WarisanAngkatan Balai Pustaka telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sastra Indonesia. Mereka membantu mengembangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa sastra yang digunakan secara luas di mereka juga mempengaruhi generasi penulis berikutnya, membangun fondasi untuk perkembangan sastra Indonesia modern. Balai Pustaka masih terus beroperasi hingga saat ini, meskipun dengan fokus dan peran yang Angkatan Balai PustakaAngkatan Balai Pustaka atau juga dikenal dengan Angkatan 20-an adalah julukan yang diberikan kepada sastrawan-sastrawan yang aktif berkarya atau menerbitkan karya sastra pada tahun 1920 sampai 1932. Julukan ini diberikan oleh Penerbit Balai sastra yang dihasilkan oleh Angkatan Balai Pustaka umumnya tentang persoalan adat-istiadat atau tradisi kolot yang membelenggu kebebasan, serta kritik tajam terhadap penindasan hak perempuan; semisal yang tertuang dalam novel Sitti Nurbaya 1922 karya Marah tersebut adalah puncak karya sastra pada zaman itu, sehingga angkatan ini kadang juga disebut Angkatan Siti Angkatan Balai Pustaka membawa pengaruh yang sangat besar dalam dunia sastra. Angkatan sebelumnya yaitu Angkatan Sastra Melayu Lama banyak menghasilkan karya hikayat, pantun, syair, dan gurindam. Sementara Angkatan 1920-an marak menerbitkan karya novel, cerpen, puisi, roman, dan sastrawan yang digolongkan ke dalam Angkatan Balai Pustaka adalah Nur Sutan Iskandar, Marah Roesli, Muhammad Yamin, Muhammad Kasim, Rustam Effendi, Abdul Muis, Tulis Sutan Sati, Merari Siregar, Djamaluddin Adinegoro, Abdoel Rivai, Soeman Hasiboean, Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati, dan Aman Datuk halaman ini kami akan mempersempit ruang lingkup, kami hanya akan membagikan beberapa karya puisi yang ditulis atau dipublikasikan pada tahun Balai Pustaka adalah pergerakan sastra yang berperan penting dalam perkembangan sastra Indonesia. Melalui penerbitan buku-buku penting dan karya sastra Indonesia, mereka berkontribusi dalam meningkatkan literasi, mempopulerkan sastra Indonesia, dan menyebarkan ideologi mereka tetap terasa dalam perkembangan sastra Indonesia hingga saat ini, sebagai jejak yang menerangi perjalanan sastra kami sudah merangkum beberapa contoh Puisi Angkatan Balai Pustaka untuk anda baca. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa. Kumpulan Puisi Angkatan Balai Pustaka ï»żPERIODIASI ANGATAN Pengertian Periodisasi sastra adalah pembabakan waktu terhadap perkembangan sastra yang ditandai dengan ciri-ciri tertentu. Maksudnya tiap babak waktu periode memiliki ciri tertentu yang berbeda dengan periode lain. Angkatan 20’an UNSUR ESTETIK Angkatan 20an 1 Gaya bahasa perumpamaan 2 beralur lurus 3 Tokoh berwatak datar 4 Banyak degresi sisipan 5 Sudut pandang orang ketiga 6 Bersifat didaktis 7 Bercorak romantic UNSUR EKSTRAESTETIK Angkatan 20an 1 Adat kawin paksa 2 Pertentangan paham antar kaum tua dan kaum muda 3 Latar daerah pedesaan 4 Cerita sesuai taman 5 Cita-cita kebangsaan belum dipermasalahkan Bahasa Novel Angkatan 20-an Bahasanya mengutamakan keindahan bahasa daripada isi , menggunakan ejaan lama, pepatah, pribahasa sehingga pembaca sukar untuk mengerti isi dari cerita tersebut. Pola Pikir Masyarakat Novel Angkatan 20-an Pola pikir masyarakat masih kolot, terbelakang. Masih percaya akan adanya hal mistik dan sangat menjunjung tinggi adat kebiasaan. Juga hanya perkataan orangtua lah yang paling benar dan harus dituruti. Tema Novel Novel Angkatan 20-an Tema yang sering diangkat menjadi tema pada novel angkatan 20-an adalah kawin paksa, pertentangan adat, pertentangan antara kaum tua dan kaum muda. Contoh karya sasta angkatan 20’an Balai Pustaka disebut angkatan 20an atau populernya dengan sebutan angkatan Siti Nurbaya. Menurut Sarwadi 1999 25 nama Balai Pustaka menunjuk pada dua pengertian 1. Sebagai nama penerbit 2. Sebagai nama suatu angkatan dalam sastra Indonesia Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian cabul dan dianggap memiliki misi politis liar. Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa roman, novel, cerita pendek dan drama dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini. Siti Nurbaya Karya Marah Rusli-1922 Tema Kasih tak sampai dan kawin paksa Tokoh Sitti Nurbaya, Samsul Bahri, Datuk Meringgih Sitti Nurbaya menceritakan cinta remaja antara Samsulbahri dan Sitti Nurbaya, yang hendak menjalin cinta tetapi terpisah ketika Samsu dipaksa pergi ke Batavia. Belum lama kemudian, Nurbaya menawarkan diri untuk menikah dengan Datuk Meringgih yang kaya tapi kasar sebagai cara untuk ayahnya hidup bebas dari utang; Nurbaya kemudian dibunuh oleh Meringgih. Pada akhir cerita Samsu, yang menjadi anggota tentara kolonial Belanda, membunuh Meringgih dalam suatu revolusi lalu meninggal akibat lukanya. Novel yang berjudul “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar ini menceritakan kisah kehidupan seorang anak gadis bernama Mariamin yang hidup sengsara karena harus mengurus ibunya yang sakit-sakitan. Mariamin mempunyai kekasih yang berasal dari keluarga kaya dan baik-baik yang bernama Aminu’ddin berjanji akan menikahinya setelah dia mendapat pekerjaan tapi Aminu’ddin tidak menikahinya karena ayahnya tidak setuju dengan hubungan mereka, Aminu’ddin hanya meminta maaf lewat surat .2 tahun berlalu , mariamin pun menikah dengan pria yang tidak ia kenal bernama kasibun yang setelah sekian lama mengidap penyakit yang dapat menular pada pasangannya. Suatu ketika Aminu’ddin datang ke rumah mariamin dan karena suaminya cemburu suaminya malah menyiksa dan memukul Aminu’ddin, karena tidak tahan mariamin pun melaporkannya ke polisi Sampai akhirnya mereka bercerai. Kesudahannya Mariamin terpaksa Pulang ke negrinya membawa nama yang kurang baik, membawa malu, menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil yang di pinggir sungai Sipirok. Hidup Mariamin sudah habis dan kesengsaraannya di dunia sudah berkesudahan. Azab dan Sengsara dunia ini sudah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jazad badan yang kasar itu. Angkatan 30’an UNSUR ESTETIK Angkatan 30an 1 Tidak banyak menggunakan bahasa perumpamaan 2 Alur maju 3 Tokoh berwatak bulat 4 Tidak benyak digresi sisipan 5 Sudut pandang orang ketiga objektif 6 Bergaya romantic UNSUR EKSTRAESTETIK Angkatan 30an 1 Masalah tentang kehidupan masyarakat kota 2 Terdapat cita-cita kebangsaan 3 Bersifat didaktis Bahasa Novel Angkatan 30-an Bahasa kurang sopan, lebih apa adanya, sudah mendekati bahasa pada novel zaman sekarang. Pola Pikir Masyarakat Novel Angkatan 30-an Pola pikir masyarakat semakin maju. Kaum wanita juga ingin maju seperti kaum lelaki. Tema Novel Novel Angkatan 30-an Tema yang sering diangkat menjadi tema novel angkatan 30-an adalah perbedaan laki-laki dan perempuan, perempuan ingin maju, emansipasi wanita. Contoh karya sastra angkatan 30’an Karya Abdul Muis Pertemuan Jodoh novel, 1933 Tulis Sutan Sati Syair Rosina 1933 Angkatan 45’an Angkatan ’45 merupakan angkatan yang lahir pada masa sebelum dan awal kemerdekaan, Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan 45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik – idealistik. Sehingga karya sastra angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan. Angkatan ini memiliki konsep seni yang diberi judul “Surat Kepercayaan Gelanggang”. Konsep ini menyatakan bahwa mereka ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Penulis yang termasuk angkatan ’45 adalah Chairil Anwar, Asrul Sani, Idrus, Achdiat K. Mihardja, dan masih banyak penulis lainnya. Karya sastra yang dihasilkan oleh angkatan ini diantaranya yang terkenal adalah Kerikil Tajam, Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma, Atheis, dan banyak lainnya. Ciri-ciri Angkatan ’45 adalah Pengaruh unsur sastra asing lebih luas Corak isi lebih realis, naturalis Individualisme sastrawan lebih menonjol, dinamis, dan kritis Penghematan kata dalam karya Karangan prosa berkurang, puisi berkembang Contoh sastra pada masa Angkatan ’45 Tiga Menguak Takdir Chairil Anwar-Asrul Sani-Rivai Apin Deru Campur Debu Chairil Anwar Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus Chairil Anwar Pembebasan Pertama Amal Hamzah Kata Hati dan Perbuatan Trisno Sumarjo Puntung Berasap Usmar Ismail Suara Toto Sudarto Bakhtiar Surat Kertas Hijau Sitor Situmorang Dalam Sajak Sitor Situmorang Rekaman Tujuh Daerah Mh. Rustandi Kartakusumah Angakatan 66’an Sejarah Angkatan 66 Angkatan ini ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra, munculnya karya sastra beraliran surrealistik, arus kesadaran, arketip, absurd, dan lain-lain pada masa angkatan ini di Indonesia. Penerbit Pustaka Jayasangat banyak membantu dalam menerbitkan karya karya sastra pada masa angkatan ini. Sastrawan pada akhir angkatan yang lalu termasuk juga dalam kelompok ini sepertiMotinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, sastrawan pada angkatan 50-60-an yang mendapat tempat pada angkatan ini adalah Iwan Simatupang. Pada masanya, karya sastranya berupa novel, cerpen dan drama kurang mendapat perhatian bahkan sering menimbulkan kesalahpahaman; ia lahir mendahului jamannya. Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Akhudiat, Darmanto Jatman,Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya. Ciri-ciri Angkatan 66 Mulai dikenal gaya epik bercerita pada puisi muncul puisi-puisi balada. Puisinya menggambarkan kemuraman batin hidup yang menderita. Prosanya menggambarkan masalah kemasyarakatan, misalnya tentang perekonomian yang buruk, pengangguran, dan kemiskinan. Cerita dengan latar perang dalam prosa mulai berkurang, dan pertentangan dalam politik pemerintahan lebih banyak mengemuka. Banyak terdapat penggunaan gaya retorik dan slogan dalam puisi. Muncul puisi mantra dan prosa surealisme absurd pada awal tahun 1970-an yang banyak berisi tentang kritik sosial dan kesewenang-wenangan terhadap kaum lemah. Unsur Estetik Angkatan 66 Angkatan ini lahir di antara anak-anak muda dalam barisan perjuangan. Angkatan ini mendobrak kemacetan-kemacetan yang disebabkan oleh pemimpin-pemimpin yang salah urus. Para mahasiswa mengadakan demonstrasi besar-besaran menuntut ditegakkannya keadilan dan kebenaran. Ciri-ciri sastra pada masa Angkatan ’66 adalah bercorak perjuangan antitirani, protes politik, anti kezaliman dan kebatilan, bercorak membela keadilan, mencintai nusa, bangsa, negara dan persatuan, berontak terhadap ketidakadilan, pembelaan terhadap Pancasila, berisi protes sosial dan politik. Hal tersebut diungkapkan dalam karya sastra pada masa Angkatan ’66 antara lain Pabrik Putu Wijaya, Ziarah Iwan Simatupang, serta Tirani dan Benteng Taufik Ismail. Penulis dan Karya Sastra Amir Hamzah Tengku Amir Hamzah Pangeran Indra Putera adalah salah satu sastrawan Indonesia Angkatan Pujangga Baru Angkatan '30-an atau Angkatan 1933 dan sekaligus Pahlawan Nasional Indonesia dan .Amir Hamzah lahir pada tanggal 28 Februari 1911 di Binjai, Langkat, Sumatra Utara. Tanggal lahir Amir Hamzah sebenarnya sempat menjadi perdebatan; Abdullah Hod kakak Amir Hamzah menyebutkan tanggal lahirnya adalah 11 Februari 1911, sedangkan 28 Februari 1911 adalah tanggal lahir yang diakui oleh Pemerintah bernama Tengku Muhammad Adil meninggal dunia pada tahun 1933, sedang ibunya bernama Tengku Mahjiwa meninggal dunia pada tahun 1931. Amir Hamzah memiliki 11 saudara Hamzah menikah dengan seorang perempuan bernama Kamiliah pada tahun 1937. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang anak bernama Tengku Hamzah meninggal dunia pada tanggal 20 Maret 1946. Amir Hamzah difitnah bekerja sama dengan Belanda, imbas dari konflik revolusi sosial di Langkat, sehingga ia ditangkap bersama beberapa orang lainnya pada tanggal 7 Maret 1946. Kemudian hari dikabarkan bahwa orang-orang yang ditangkap tersebut telah dihukum pancung pada tanggal 20 Maret 1946, tepatnya pukul WIB. Peristiwa berdarah tersebut disulut oleh Partai Komunis Indonesia PKI.Pada tahun 1948, ketika kuburan massal di Kwala Begumit digali, jenazah Amir Hamzah ditemukan diidentifikasi oleh anggota keluarga. Pada bulan November 1949, jenazah Amir Hamzah dikuburkan di Masjid Azizi, Tanjung Pura, tanggal 3 November 1975 — atas jasa-jasanya, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975 — Amir Hamzah diangkat menjadi Pahlawan Nasional Hamzah adalah salah satu pendiri majalah sastra Pujangga Baru bersama Armijn Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana pada tahun dunia sastra, Amir Hamzah diberi julukan Raja Penyair Zaman Pujangga Karya Amir HamzahNyanyi Sunyi puisi tunggal dibukukan oleh Pustaka Rakyat, 1938; sebelumnya dimuat di majalah sastra Pujangga Baru, November 1937.Setanggi Timur puisi terjemahan dimuat di majalah sastra Pujangga Baru, Oktober 1939.Buah Rindu puisi tunggal dibukukan oleh Pustaka Rakyat, 1941; sebelumnya dimuat di majalah sastra Pujangga Baru, Juni 1941.Sastra Melayu Lama dan Raja-Rajanya diadaptasi dari pidato radio Amir Hamzah dibukukan oleh Cerdas, 1942.Bhagawad-Gita terjemahan Bhagavad Gita dalam tujuh belas ronde, berdasarkan terjemahan bahasa Belanda oleh Boissevain dimuat di majalah sastra Pujangga Baru, 1933-1935.Dalam buku Buah Rindu, secara umum, Amir Hamzah menuangkan tema cinta, rindu dan kehilangan. Sementara di dalam buku Nyanyi Sunyi, banyak diisi dengan puisi religius. Banyak puisinya yang kemudian menjadi terkenal dan dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah bahkan menulis puisi, Amir Hamzah juga banyak menulis esai yang dimuat di majalah sastra Pujangga Baru. Namun untuk mempersempit pembahasan, pada pembahasan kali ini, kami akan membagikan beberapa puisi yang pernah ia kami sudah merangkum beberapa Contoh Puisi Karya Amir Hamzah untuk anda baca dan hayati. Semoga bisa menjadi inspirasi dan bahan bacaan yang menyenangkan untuk melampiaskan rasa. Kumpulan Puisi Karya Amir Hamzah MENGELUH Bukanlah beta berpijak bunga, melalui hidup menuju makam. Setiap saat disimbur sukar bermandi darah dicucurkan dendam Menangis mata melihat makhluk, berharta bukan berhakpun bukan. Inilah nasib negeri anda, memerah madu menguruskan badan. Ba’mana beta bersuka cita, ratapun rakyat riuhan gaduh, membobos masuk menyapu kalbuku. Ba’mana boleh berkata beta, suara sebat sedanan rusuh, menghimpit masah, gubahan cintaku. II Bilakah bumi bertabur bunga, disebarkan tangan yang tiada terikat, dipetik jari, yang lemah lembut, ditanai sayap kemerdekaan rakyat? Bilakah lawang bersinar Bebas, ditinggalkan dera yang tiada berkata? Bilakah susah yang beta benam, dihembus angin kemerdekaan kita? Disanalah baru bermohon beta, supaya badanku berkubur bunga, bunga bingkisan, suara syairku. Disitulah baru bersuka beta, pabila badanku bercerai nyawa, sebab menjemput Manikam bangsaku. Dari Percikan Permenungan Oleh Rustam Effendi Angkatan Balai Pustaka April 5, 2011 at 705 pm a. Angkatan Balai Pustaka Angkatan 20-an Ciri umum angkatan ini adalah tema berkisari tentang konflik adat antara kaum tua dengan kaum muda, kasih tak sampai, dan kawin paksa, bahan ceritanya dari Minangkabau, bahasa yang dipakai adalah bahasa Melayu, bercorak aliran romantik sentimental. Tokohnya adalah Marah Rusli roman Siti Nurbaya, Merari Siregar roman Azab dan Sengsara, Nur Sutan Iskandar novel Apa dayaku Karena Aku Seorang Perempuan, Hamka roman Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tulis Sutan Sati novel Sengsara Membawa Nikmat, Hamidah novel Kehilangan Mestika, Abdul Muis roman Salah Asuhan, M Kasim kumpulan cerpen Teman Duduk b. Angkatan Pujangga Baru Angkatan 30-an Cirinya adalah 1 bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern, 2 temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya, 3 bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris, 4 pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan ’80 Belanda, 5aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan 6 setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan. Tokohnya adalah STA Syhabana novel Layar Terkembang, roman Dian Tak Kunjung Padam, Amir Hamzah kumpulan puisi Nyanyi Sunyi, Buah Rindu, Setanggi Timur, Armin Pane novel Belenggu, Sanusi Pane drama Manusia Baru, M. Yamin drama Ken Arok dan Ken Dedes, Rustam Efendi drama Bebasari, Tatengkeng kumpulan puisi Rindu Dendam, Hamka roman Tenggelamnya Kapa nVan Der Wijck. c. Angkatan ’45 Ciri umumnya adalah bentuk prosa maupun puisinya lebih bebas, prosanya bercorak realisme, puisinya bercorak ekspresionisme, tema dan setting yang menonjol adalah revolusi, lebih mementingkan isi daripada keindahan bahasa, dan jarang menghasilkan roman seperti angkatan sebelumnya. Tokohnya Chairil Anwar kumpulan puisi Deru Capur Debu, kumpulan puisi bersama Rivai Apin dan Asrul Sani Tiga Menguak Takdir, Achdiat Kartamiharja novel Atheis, Idrus novel Surabaya, Aki, Mochtar Lubis kumpulan drama Sedih dan Gembira, Pramduya Ananta Toer novel Keluarga Gerilya, Utuy Tatang Sontani novel sejarah Tambera d. Angkatan ’66 Ciri umumnya adalah tema yang menonjol adalah protes sosial dan politik, menggunakan kalimat-kalimat panjang mendekati bentuk prosa. Tokohnya adalah Rendra kumpulan puisi Blues untuk Bnie, kumpulan puisi Ballada Orang-Orang Tercinta, Taufiq Ismail kumpulan puisi Tirani, kumpulan puisi Benteng, Dini novel Pada Sebuah Kapal, Navis novel Kemarau, Toha Mohtar novel Pulang, Mangunwijaya novel Burung-burung Manyar, Iwan Simatupang novel Ziarah, Mochtar Lubis novel Harimau-Harimau, Mariannge Katoppo novel Raumannen. Entry filed under angkatan sastra.

kumpulan puisi angkatan 20